Mengenal Hustle Culture: Budaya Gila Kerja yang Berbahaya

Teknologi49 views

Pernahkah kamu membuat story di Instagram tentang pekerjaanmu? Atau pernahkah kamu sengaja bercerita betapa sibuknya dirimu di media sosial agar dianggap pekerja keras oleh atasan dan rekan kerjamu? Atau apakah kamu terus bekerja hingga hampir tidak memiliki waktu untuk diri sendiri? Atau barangkali kamu pernah merasa takut tertinggal, cemas, atau merasa insecure melihat teman-temanmu karirnya menanjak menuju puncak sementara hidupmu terasa biasa-biasa aja? Inilah fenomena budaya gila kerja yang kini menjadi tren, khususnya di kalangan anak muda. Apa sih penyebabnya?

Transformasi dunia digital yang begitu pesat menuntut pekerjaan dapat diselesaikan dengan lebih cepat. Teknologi modern yang digadang-gadang mampu memudahkan manusia di sisi lain terkadang justru membuat pekerjaan kian bertambah, bahkan tak selalu membuat segalanya jadi lebih mudah. Setiap individu berlomba mengejar kesuksesan, saling berpacu dalam lintasan yang tak jarang diwarnai luka dan pengorbanan.

Hustle Culture = Workaholism

Secara etimologis, istilah hustle culture berasal dari kata Bahasa Inggris, hustle, yang berarti antara lain aksi energik, mendorong seseorang agar bisa bergerak lebih cepat secara agresif, dipadukan dengan kata culture yang berarti budaya. Sedangkan definisi hustle culture menurut pakar psikologi adalah budaya yang membuat seseorang menganut workaholism atau gila kerja (Setyawati, 2020). Istilah workaholism diperkenalkan pertama kali oleh Wayne Oates dalam bukunya yang berjudul Confessions of a Workaholic : the Facts About Work Addiction pada tahun 1971.  Kini tren hustle culture dimaknai sebagai suatu keadaan bekerja terlalu keras dan mendorong diri sendiri untuk melampaui batas kemampuan hingga akhirnya menjadi gaya hidup. Dengan kata lain, tiada hari tanpa bekerja, hingga tak ada lagi waktu untuk kehidupan pribadi. Budaya gila kerja inilah yang telah menjadi standar bagi sebagian orang untuk mengukur hal-hal seperti produktivitas dan kinerja.

Kerja Keras Tak Selalu Positif

Pada dasarnya, bekerja keras merupakan hal positif, akan tetapi ketika seseorang terlalu mementingkan pekerjaannya hingga tak pernah beristirahat, saat itulah akan timbul masalah. Kebiasaan ini tak baik bagi kesehatan baik fisik maupun mental. Pekerja yang menganut hustle culture cenderung mengabdikan diri hanya untuk bekerja, jarang beristirahat, kurang tidur, dan seringkali memotivasi diri sendiri untuk terus mengabaikan rasa sakit dengan tetap bekerja. Orang yang terjebak dalam hustle culture seringkali tidak menyadari hal ini karena budaya tersebut telah tertanam dan menjadi hal yang biasa dilakukan sehari-hari. Akibatnya mereka tidak dapat lagi mengenali respons negatif tubuh yang menginginkan istirahat saat diperlukan. Dalam jangka panjang, kebiasaan ini dapat berbahaya bagi tubuh.

Barangkali sebagian orang akan menyangkal bahwa hustle culture berbahaya bagi kita. Anggapan tersebut tentu tidak sepenuhnya salah. Namun, sebagai manusia yang memiliki limit, tentu kita harus mendahulukan kesehatan fisik dan mental kita di atas segalanya. Kesuksesan tak selalu berbanding lurus dengan kebahagiaan.

Berdasarkan penelitian yang dipublikasikan oleh Current Cardiology Reports, dari data observasi 740.000 pekerja yang tidak memiliki penyakit kardiovaskular bawaan, ditemukan fakta bahwa mereka yang bekerja lebih dari 55 jam per minggu memiliki peningkatan risiko penyakit kardiovaskular dan serebrovaskular, seperti penyakit jantung koroner. Selain itu, kerja lembur juga ditemukan dapat berkontribusi terhadap resistensi insulin, aritmia, hiperkoagulasi, diabetes, bahkan stroke.

Lantas, apakah bertambahnya jam kerja tersebut berhasil meningkatkan produktivitas pekerja? Faktanya, penelitian yang dilakukan oleh John Pencavel menunjukkan bahwa orang yang bekerja terlalu lama tidak serta-merta akan meningkatkan produktivitas secara keseluruhan. Menurut analisis Pencavel, justru bekerja lebih dari 48 jam per minggu membuat produktivitas turun. Individu yang bekerja hingga 70 jam seminggu bahkan hanya dapat menyelesaikan jumlah pekerjaan yang sama dengan individu yang bekerja hingga 55 jam per minggu. Bekerja tanpa henti akan mengurangi waktu tidur dan mengakibatkan kelelahan sehingga kualitas produktivitas justru menurun. Dengan kata lain, alih-alih mendapatkan hasil optimal, yang didapatkan hanya lelah semata.

Solusi Mengatasi Hustle Culture

Agar tren hustle culture tidak sampai memberi dampak buruk bagimu, berikut ini adalah beberapa tips atau cara yang bisa kamu lakukan untuk menghadapi hustle culture.

Yang pertama, kamu harus sadar terhadap keadaan. Saat kamu mulai merasa terlalu lama bekerja dan tubuhmu mulai memberikan respons negatif seperti kelelahan, kamu harus segera sadar dan beristirahat. Batasan dan kemampuan orang berbeda-beda. Oleh karena itu, kamu harus memahami dan menetapkan batasan untuk dirimu sendiri.

Buatlah jadwal perencanaan dengan baik agar tidak terjadi penumpukan pekerjaan dan deadline. Jangan lupa jadwalkan istirahat atau bahkan liburan di sela-sela kesibukanmu. Dengan perencanaan yang efektif, kamu akan menjadi lebih produktif dan terhindar dari kelelahan.

Salah satu ciri orang yang menganut hustle culture adalah menetapkan target yang tidak realistis. Memang tidak ada salahnya bersikap ambisius dan menetapkan target tinggi. Namun, kamu juga harus bisa membuat target-target yang realistis dan sesuai dengan keinginan serta keadaanmu sendiri. Kumpulan langkah-langkah kecil tetapi terukur dan mudah dicapai lebih baik daripada langkah besar yang tak mampu diraih.

Itulah tips yang bisa kamu lakukan agar terhindar dari hustle culture dan menerapkan gaya kerja yang sehat. Memang tidak ada yang salah dengan bekerja keras, melakukan pekerjaan sebaik mungkin akan memberikan peluang keberhasilan yang lebih tinggi. Akan tetapi, jangan sampai kita melupakan fakta bahwa kita adalah manusia yang memiliki aspek kehidupan pribadi dan kehidupan sosial selain kehidupan pekerjaan. Seperti roda gigi yang saling bertaut dan mendorong satu sama lain, segala aspek dalam hidupmu pun harus berjalan secara seimbang demi kehidupan yang bahagia. Bekerjalah untuk hidup, bukan hidup untuk bekerja.