Usus buntu adalah suatu penyakit akibat terjadinya peradangan pada daerah apendiks atau usus buntu. Dalam tubuh manusia usus buntu merupakan salah satu organ yang memiliki fungsi sebagai imunitas. Usus buntu secara aktif mensekresi imunoglobin yang mengandung kelenjar limfoit yang berfungsi menjaga kekebalan tubuh. Penyakit ini dapat membahayakan penderita jika gejala tidak dikenali secara dini. Gejala Usus Buntu kerap tidak disadari dan dibiarkan begitu saja, bila gejala tidak ditangani lebih dari tiga hari akan memperparah terjadinya peradangan.

Terjadinya usus buntu berawal dari proses pencernaan makanan di jaringan mukosa hingga menyebar ke bagian apendiks (usus buntu). Jaringan mukosa menghasilkan lendir secara aktif setiap harinya, ketika terjadi peningkatan lendir secara berlebih akan mengakibatkan terhambatnya pengaliran mukus (lendir) sampai ke sekum (anus). Semakin banyak lendir yang bertumpuk dan terbatasnya elastisitas dinding apendiks sehingga menyebabkan pembengkakan, kondisi ini yang mengakibatkan munculnya rasa nyeri pada perut kanan bagian bawah.

Tanda khas dari penyakit ini adalah timbulnya rasa nyeri pada perut bagian kanan bawah yang muncul secara tiba-tiba meski saat tidur dan nyeri semakin terasa apabila ada pergerakan, bersin, batuk bahkan saat bernafas. Selain itu gejala lain yang mungkin timbul pada penderita usus buntu seperti:

  1. Menurunnya nafsu makan.
  2. Mual, muntah.
  3. Susah/tidak bisa buang angin (kentut).
  4. Susah buang air besar.
  5. Diare.
  6. Kram, bengkak perut.
  7. Peningkatan suhu tubuh (demam).

Gejala diatas dapat muncul bersamaan, atau saling menyertai. Jika mendapati gejala nyeri di bagian perut semakin meluas yang menandakan peradangan telah dimulai, segera lakukan pemeriksaan ke dokter atau tempat pelayanan kesehatan terdekat, agar dilakukan pemeriksaan lanjutan seperti tes darah untuk mengetahui jumlah sel darah putih, USG atau CT scan untuk mengetahui sumber nyeri, tes urine, pemeriksaan panggul dan tes kehamilan untuk memastikan nyeri yang timbul bukan akibat dari masalah reproduksi

Pada dasarnya ketika gejala muncul tubuh juga melakukan usaha penyembuhan peradangan yang terjadi, dengan cara menutupnya menggunakan onemtum (lapisan khusus dinding rongga perut). Usaha mengakibatkan timbulnya nekrosi (kematian jaringan) berupa terbentuknya nanah yang berkembangbiak atau meluas. Akan tetapi jika usaha tubuh berhasil dengan tidak munculnya nanah peradangan akan terurai dengan sendirinya.

Namun apa yang terjadi jika membiarkan gejala ini terus berlanjut?. Peradangan yang semakin parah akan mengakibatkan pecahnya usus buntu sehingga terinfeksinya rongga perut bagian dalam, setelah terjadinya infeksi kemungkinan besar akan mengalami komplikasi atau dampak yang lebih parah seperti:

  • Terbentuknya abses (kantung nanah). Kondisi ini merupakan usaha tubuh dalam mengatasi infeksi yang terjadi.
  • Peritonitis. Terinfeksinya peritoneum atau bagian dalam perut yang menyebabkan harus segera dilakukannya operasi pembedahan agar infeksi tidak meluas.

Ketika komplikasi sudah terjadi harus dilakukan proses pemotongan apendiks yang disebut dengan apendektomi. Terdapat dua cara yaitu dengan laparoskopi dan laparotomi. Laparoskopi dilakukan dengan menyayat sedikit bagian perut untuk memasukan alat bedah kecil dilengkapi dengan kamera, proses penyembuhan dengan laparoskopi lebih cepat karena hanya sedikit bagian perut yang disayat. Cara yang kedua laparotomi, yaitu dengan menyayat perut bagian kanan bawah selebar 5-10 cm untuk mengeluarkan usus buntu. Cara ini biasanya dilakukan jika infeksi sudah meluas. Jika terjadi abses proses pembedahan belum dapat dilakukan karena harus mengeluarkan nanah terlebih dahulu jika sudah beberapa hari kemudian baru bisa dilakukan pembedahan.

Dengan mengenali gejala usus buntu secara dini, Anda dapat memperkecil terjadinya komplikasi dan dapat melakukan penanganan dengan segera.